Ketika Kematian Dibicarakan dengan Tenang: Kajian Persiapan Kematian Muslim di Jepang Niihama, Ehime — 5 September 2026
Ketika Kematian Dibicarakan dengan Tenang: Kajian Persiapan Kematian Muslim di Jepang  Niihama, Ehime — 5 September 2026
9Sep
Ketika Kematian Dibicarakan dengan Tenang: Kajian Persiapan Kematian Muslim di Jepang Niihama, Ehime — 5 September 2026

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

"Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati." (QS. Ali Imran: 185)

Ada sebuah topik yang sering dihindari dalam percakapan sehari-hari, namun justru paling penting untuk dibicarakan: kematian. Sabtu, 5 September 2026, komunitas Muslim Indonesia di Ehime mengambil langkah berani — membicarakan kematian dengan tenang, terencana, dan penuh rasa cinta kepada keluarga.

Bertempat di Mushola Niihama, Ikkucho 2-Chome-43 lantai 2, Niihama, sebuah kajian bertajuk "Panduan Administratif Seputar Kematian Muslim di Jepang" diselenggarakan mulai pukul 09.30 JST hingga selesai. Hadir sebagai pemateri utama, Ustadz Herizal Adhardi, Imam Masjid Istiqlal Osaka — sosok yang selama bertahun-tahun mendampingi keluarga Muslim Indonesia menghadapi salah satu momen paling berat dalam kehidupan perantauan.

Puluhan jamaah dari berbagai komunitas Muslim Ehime hadir memenuhi ruangan — ibu-ibu, bapak-bapak, mahasiswa, dan para pekerja. Suasana kajian berlangsung hangat dan serius, diselingi diskusi aktif dari para peserta yang menyadari bahwa informasi ini bukan sesuatu yang bisa ditunda.

Mengapa Ini Penting — Terutama di Jepang

Bagi Muslim yang hidup di Indonesia, pengurusan jenazah adalah hal yang relatif mudah. Masjid, takmir, dan komunitas siap membantu dalam hitungan jam. Tapi di Jepang, kondisinya sangat berbeda.

Sistem pemakaman Jepang menggunakan kremasi (火葬/kasou) sebagai prosedur standar — bahkan hampir satu-satunya pilihan yang tersedia secara umum. Jika keluarga tidak memahami hak mereka dan tidak bergerak cepat sejak awal, jenazah seorang Muslim bisa dikremasi tanpa sempat ada yang mencegah.

Lebih rumit lagi jika almarhum adalah bagian dari keluarga campuran — pasangan orang Indonesia dan Jepang, atau keluarga dengan perbedaan keyakinan. Dalam kondisi duka yang mendalam, keputusan harus diambil dalam hitungan jam. Tanpa persiapan, tanpa informasi, tekanan itu bisa sangat berat.

Kajian ini hadir untuk mengisi celah tersebut.

Tujuh Poin Krusial yang Dibahas

Ustadz Herizal memaparkan panduan secara sistematis — dari persiapan sebelum kematian hingga proses pemakaman dan pemulangan jenazah. Berikut poin-poin utama yang disampaikan:

  1. Persiapan Sebelum Meninggal Dunia

Ini adalah poin yang paling ditekankan. Setiap Muslim yang tinggal di Jepang — terutama yang memiliki pasangan Jepang atau keluarga yang bukan Muslim — sangat dianjurkan untuk menyiapkan surat pernyataan atau surat wasiat yang menyatakan secara jelas: tidak dikremasi, ingin dimakamkan sesuai syariat Islam, dan keinginan apakah dimakamkan di Jepang atau dipulangkan ke Indonesia.

"Mempersiapkan diri adalah bentuk cinta kepada keluarga," demikian pesan yang tertulis dalam materi kajian. Kalimat sederhana yang menyentuh.

Surat pernyataan ini harus ditandatangani keluarga dan disimpan di masjid serta di tangan keluarga terdekat yang dapat dipercaya.

  1. Langkah Pertama Saat Menerima Kabar Kematian

Tetap tenang dan segera hubungi keluarga. Tentukan sejak awal: jenazah akan dimakamkan di Jepang atau dipulangkan ke Indonesia. Keputusan ini menentukan seluruh langkah berikutnya.

  1. Koordinasi dengan Masjid dan Komunitas Muslim

Segera hubungi Masjid Istiqlal Osaka atau komunitas Muslim terdekat. Jika ada SDM Muslim di wilayah tersebut, proses bisa dilakukan di tempat. Jika tidak memungkinkan, tim dari Masjid Istiqlal Osaka dapat datang atau jenazah dibawa ke Osaka.

  1. Pengurusan di Rumah Sakit

Informasikan dengan tegas kepada pihak rumah sakit bahwa almarhum adalah Muslim dan tidak boleh dikremasi. Sampaikan dalam bahasa Jepang yang jelas — materi kajian bahkan menyediakan kalimat praktis yang bisa langsung digunakan:

故人はイスラム教徒です。(Kojin wa Isuramu kyouto desu.) — Almarhum adalah Muslim.
火葬は希望していません。(Kasou wa kibou shiteimasen.) — Kami tidak menghendaki kremasi.
イスラム式の土葬を希望しています。(Isuramu-shiki no dosou o kibou shiteimasu.) — Kami menghendaki pemakaman Islam.

Minta surat keterangan kematian (死亡診断書/Shibou Shindansho) dari dokter. Dokumen ini adalah kunci untuk seluruh proses berikutnya.

  1. Laporan ke Shiyakusho (市役所)

Shibou Todoke (死亡届) — laporan kematian — harus diserahkan ke kantor kota (Shiyakusho) maksimal 7 hari setelah kematian. Hanya satu dokumen yang diperlukan. Setelah itu, izin pemakaman (埋葬許可証) akan diterbitkan.

  1. Pemakaman di Jepang

Untuk yang memilih dimakamkan di Jepang, estimasi waktu dalam kondisi normal adalah sekitar 3 hari dari kematian hingga pemakaman. Estimasi biaya sekitar ¥300.000, tergantung lokasi dan pengelola makam.

Beberapa lokasi pemakaman yang diketahui menerima jenazah Muslim di wilayah Kansai dan sekitarnya antara lain Okayama, Wakayama, Kochi, Hiroshima, Kobe, dan Osaka. Bagi yang berencana menetap jangka panjang di Jepang, lokasi pemakaman bahkan bisa dipesan lebih awal.

  1. Pemulangan Jenazah ke Indonesia

Proses pemulangan membutuhkan waktu sekitar 2 minggu atau lebih, tergantung kelengkapan dokumen dan koordinasi. Estimasi biaya yang perlu disiapkan adalah sekitar ¥1.300.000 — mencakup proses embalming/pengawetan dan pengiriman melalui Osaka. KJRI Osaka dan Masjid Istiqlal Osaka dapat membantu koordinasi administrasi.

Surat Wasiat di Mata Hukum Jepang

Sesi kedua kajian membahas aspek legal — disampaikan oleh perwakilan KJRI Osaka mengenai Pengurusan Penetapan Surat Wasiat di Jepang (日本における遺言書の手続き).

Surat wasiat di Jepang memiliki kekuatan hukum dalam sistem perdata Jepang berdasarkan Undang-Undang Hukum Perdata No. 89 Tahun 1896. Ada tiga jenis surat wasiat yang diakui: tulis tangan (自筆証書遺言), diaktakan lewat notaris (公正証書遺言), dan tersegel/rahasia yang disahkan notaris (秘密証書遺言).

Poin penting yang ditekankan: membuat surat wasiat sangat penting terutama bagi WNI yang menikah dengan WNA — baik untuk keperluan pemakaman sesuai Islam maupun untuk hal-hal lainnya. Testator wajib menyampaikan informasi surat wasiat kepada keluarga atau orang yang dipercaya agar dapat dilaksanakan sesuai ketentuan.

Kontak Darurat yang Harus Disimpan Setiap Muslim di Jepang

Dari kajian ini, setiap muslim di Ehime dianjurkan untuk menyimpan kontak-kontak berikut dan memastikan keluarga terdekat juga memilikinya:

Masjid Istiqlal Osaka (kontak darurat utama)
Alamat: 1-2-10 Nakabiraki, Nishinariku, Osaka 557-0022
Telepon: 06-7668-0699
HP/WA: 080-4844-4883
Email: [email protected]

KJRI Osaka
WhatsApp: 080-3113-1003
Email: [email protected]

Lebih dari Sekadar Informasi

Kajian ini bukan tentang rasa takut mati. Justru sebaliknya — ia adalah tentang ketenangan. Tentang keyakinan bahwa ketika saatnya tiba, keluarga yang kita cintai tidak akan bingung, tidak akan terburu-buru membuat keputusan tanpa arah, dan hak-hak kita sebagai Muslim akan tetap terjaga.

Di perantauan yang jauh, di negeri yang sistem dan budayanya berbeda, mempersiapkan kematian adalah salah satu bentuk tanggung jawab paling nyata yang bisa kita lakukan — untuk diri sendiri, untuk keluarga, dan untuk sesama.

Semoga Allah memberikan husnul khatimah kepada kita semua. Aamiin.

Materi lengkap kajian tersedia dan dapat diminta melalui pengurus KMI Ehime.
Dokumentasi: Tim KMI Ehime | Mushola Niihama, 5 September 2026
Sumber materi: Ustadz Herizal Adhardi, Imam Masjid Istiqlal Osaka